Dobrakpos – Banyak anak sekolah mulai SD hingga SMP atau juga mahasiswa sekarang sering bilang, “lagi burnout.” Entah karena tugas menumpuk, tekanan sekolah, atau memang capek karena menghadapi rutinitas. Tapi sebenarnya, apakah burnout di usia sekolah maupun sudah kuliah itu merupakan hal yang wajar?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Rasa lelah memang normal, tapi kalau terjadi terus-menerus dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, itu bisa jadi tanda yang perlu diperhatikan.

Apa Itu Burnout Sebenarnya?

Secara umum, burnout adalah kondisi saat seseorang merasa sangat lelah secara fisik, mental, dan emosional karena tekanan yang berlangsung lama.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan burnout sebagai sindrom akibat stres kronis yang tidak berhasil dikelola. Tandanya bukan cuma capek, tapi juga mulai kehilangan motivasi, merasa jenuh, dan kinerja menurun.

Di era sekarang, istilah burnout memang sering dipakai lebih luas. Banyak remaja menggunakannya untuk menggambarkan kelelahan total, meski penyebabnya tidak selalu dari pekerjaan, tapi juga dari sekolah, tugas, dan tekanan sosial.

Kenapa Remaja dan Mahasiswa Sering Mengalami Burnout?

Usia sekolah hingga kuliah adalah fase yang penuh perubahan. Tekanan datang dari banyak arah, sering kali bersamaan.

Mulai dari tugas yang menumpuk, tuntutan nilai, ekspektasi orang tua, sampai kekhawatiran soal masa depan. Belum lagi kebiasaan zaman sekarang ini seperti menggunakan media sosial yang hampir tidak pernah berhenti.

Akibatnya, otak semakin stress dan pusing. Fisik mungkin diam, tapi pikirannya terus-menerus bekerja. Inilah yang membuat rasa lelag terasa lebih cepat datang.

Tanda-Tanda Burnout yang Sering Diabaikan

Burnout memang tidak muncul secara tiba-tiba. Biasanya datang perlahan dan sering dianggap sebagai hal sepele bagi kaum remaja.

Berikut ini beberapa tanda yang perlu diperhatikan:

  • Mudah lelah meski tidak melakukan aktivitas berat
  • Sulit fokus saat belajar atau mengerjakan tugas
  • Motivasi menurun, bahkan untuk hal yang sebelumnya disukai
  • Emosi tidak stabil, mudah cemas atau cepat marah
  • Menarik diri atau menjadi lebih introvert menjauh dari teman maupun lingkungan sekitar

Kalau tanda-tanda ini muncul sesekali, mungkin hanya kelelahan biasa. Tapi kalau berlangsung terus, itu perlu diwaspadai.

Hal yang Wajar atau Perlu Diwaspadai?

Merasa capek di usia remaja itu wajar. Apalagi saat sedang banyak tugas atau aktivitas.

Namun, jika rasa lelah itu tidak hilang, mulai mengganggu belajar, hubungan sosial, dan kesehatan mental, maka itu bukan lagi hal yang bisa dianggap biasa.

Burnout bukan hanya merasa capek atau kelelahan. Ini adalah kondisi ketika tubuh dan pikiran sudah terlalu lama dipaksa bekerja tanpa istirahat yang cukup.

Peran Media Sosial yang Sering Tidak Disadari

Satu hal yang sering luput adalah pengaruh media sosial.

Scroll tanpa henti, melihat kehidupan orang lain, dan merasa harus selalu aktif bisa membuat mental cepat lelah. Tanpa sadar, otak terus menerima informasi dan tekanan, meski tubuh santai-santai aja.

Ini yang membuat banyak remaja merasa lelah, padahal secara fisik tidak melakukan banyak aktivitas.

Kapan Harus Mulai Waspada?

Burnout perlu diperhatikan jika:

  • Rasa lelah tidak hilang meski sudah istirahat
  • Aktivitas belajar jadi terasa berat dan sangat menganggu motivasi
  • Mulai kehilangan minat pada banyak hal terutama hobi
  • Emosi sulit dikontrol dan mudah emosi
  • Merasa tidak sanggup menghadapi aktivitas sehari-hari

Kalau sudah sampai di titik ini, tidak ada salahnya mencari bantuan. Bisa mulai dari cerita ke orang terdekat, atau berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog. Kita juga bisa berupaya sendiri dengan melakukan aktivitas yang lebih positif seperti menggerakkan tubuh, bersosialisasi, mengurangi intensifitas bermain gadget, dan untuk usia ini harusnya motivasi belajar lebih ditingkatkan lagi agar berprestasi.

Burnout di usia remaja hingga mahasiswa memang bisa terjadi. Tapi bukan berarti harus dianggap normal ataupun kondisi wajar. Sebab, jika terus-menerus dibiarkan, bisa berdampak lebih besar terhadap kesehatan mental dan kehidupan sehari-hari terutama aktivitas belajar di usia muda.

Mengenali tanda-tanda burnout sejak awal lebih baik, memberi waktu fisik ini untuk istirahat, dan tidak ragu mencari bantuan jika memang dibutuhkan.