Dobrakpos – Setelah spekulasi panjang, sekuel The Devil Wears Prada akhirnya membuktikan bahwa reuni legendaris ini tidak lengkap tanpa kehadiran Andrea ‘Andy’ Sachs. Film ini bukan lagi sekadar tentang Miranda Priestly, melainkan tentang bagaimana Andy kembali masuk ke lingkaran “setan” mode dengan cara yang tak terduga.

Dari Asisten Menjadi Rival?

Jika dulu Andy berusaha keras untuk keluar dari dunia Miranda, di sekuel ini kita melihat sosok Andy yang jauh lebih matang. Ia kini bukan lagi gadis polos dengan sepatu datar, melainkan seorang jurnalis berpengaruh yang memiliki pandangan kritis terhadap industri mode modern yang mulai kehilangan jiwanya akibat AI dan algoritma.

Dilansir dari USA Today, performa Anne Hathaway dalam film ini disebut-sebut sebagai salah satu penampilan terbaiknya. Dinamika antara Andy, Miranda, dan Emily menciptakan ketegangan profesional yang jauh lebih “berisi” dibandingkan film pertamanya.

Sentuhan Sutradara David Frankel Tetap Konsisten

Kembalinya sutradara David Frankel memberikan nuansa familiar namun tetap terasa segar. Ia berhasil memotret kontras antara kemewahan lama (majalah cetak) dan hiruk-pikuk media sosial masa kini tanpa terasa dipaksakan. Naskah yang tajam membuat setiap dialog terasa seperti “tembakan” yang tepat sasaran, terutama saat Andy dan Miranda beradu argumen tentang masa depan jurnalisme.

Bukan Cuma Fashion

Ulasan film ini menekankan bahwa The Devil Wears Prada 2 adalah surat cinta sekaligus kritik untuk industri kreatif. Penonton tidak hanya disuguhi deretan busana high-end tahun 2026, tetapi juga diajak merenungkan apakah integritas masih berharga di dunia yang hanya memuja angka engagement.

Film ini sukses menutup lubang nostalgia sekaligus memberikan jawaban atas pertanyaan: “Ke mana Andy Sachs pergi setelah melemparkan ponselnya ke air mancur di Paris?”